Butuh Bantuan? Customer Service FAATIHA siap melayani dan membantu Anda dengan sepenuh hati.
Beranda » » Mahar atau Mas Kawin Menurut Al-Quran dan Hadits

Mahar atau Mas Kawin Menurut Al-Quran dan Hadits

Ditulis pada: 28 September 2015 | Kategori:

 

Mahar

Mahar merupakan sesuatu yang diberikan suami kepada isteri berupa harta atau bentuk lainnya sebagai salah satu syarat dalam pernikahan. Mahar atau disebut juga dengan mas kawin diterangkan di dalam Alquran, seperti yang dicantumkan di bawah ini:

“Dan berikanlah mahar (mas kawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” (QS. An-Nisaa’: 4)

Pengertian Mahar dalam Islam

Mahar (mas kawin) merupakan hak seorang wanita yang harus dipenuhi oleh lelaki yang akan menikahinya. Mahar menjadi hak milik seorang isteri dan tidak boleh siapapun mengambilnya, entah ayahnya atau pihak lainnya, kecuali bila isteri ridha memberikan mahar tersebut kepada siapa yang memintanya.

Di dalam meminta mahar kepada calon suami, seorang calon isteri tidak boleh menuntut sesuatu yang besar nilainya atau yang memberatkan beban calon suaminya. Dianjurkan kepada calon isteri untuk meminta mahar yang meringankan beban calon suaminya. Dalam ajaran Islam, wanita supaya meminta mahar yang bisa memudahkan dalam proses akad nikah.

Mahar Menurut AlQuran dan Hadits

Akan tetapi bila calon suami memang ‘terbilang mapan’ dari sisi ekonomi, tentunya tidak mempermasalahkan tuntutan mahar dari calon istrinya. Bila seorang calon istri menjumpai calon suami seperti itu (mapan), akan merasa leluasa meminta mahar dalam bentuk harta dengan nilai nominal tertentu baik berupa uang tunai, emas, tanah, rumah, kendaraan atau benda berharga lainnya. Pada umumnya dan jamak terjadi dalam setiap prosesi akad nikah, bentuk mahar berupa mushaf AlQuran serta seperangkat alat shalat.

Beberapa hadits tentang Mahar

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.”

‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya untuk melahirkan.” (HR. Ahmad)

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’” (HR. Abu Daud)

“Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Namun demikian, ada perdebatan mengenai Mahar menggunakan hafalan Al-Quran yang mana mengacu kepada perkataan Imam Syaafi’i:

أقل ما يجوز في المهر أقل ما يتمول الناس وما لو استهلكه رجل لرجل كانت له قيمة وما يتبايعه الناس بينهم

Minimal yang boleh dijadikan mahar adalah harta ukuran minimal yang masih dihargai masyarakat, yang andaikan harta ini diserahkan seseorang kepada orang lain, masih dianggap bernilai, layak diperdagangkan. (Al-Umm: 5/63).

Dalam Fatwa Islam menjelaskan hadis Sahl di atas,

وفي هذا الحديث أنه يجوز أن يكون الصداق قليلاً وكثيراً مما يُتمول إذا تراضى به الزوجان لأن خاتم الحديد في نهايةٍ من القلة ، وهذا مذهب الشافعي وهذا مذهب جماهير العلماء من السلف والخلف ….أنه يجوز ما تراضى به الزوجان من قليل وكثير كالسوط والنعل وخاتم الحديد ونحوه

Hadis ini menunjukkan boleh memberikan mahar sedikit maupun banyak, yang masih dianggap harta, apabila suami istri sepakat menerimanya. Karena cincin besi adalah harta yang sangat murah nilainya. Inilah madzhab As-Syafii dan pendapat mayoritas ulama masa silam dan generasi akhir…, mereka berpendapat ukuran mahar adalah yang disepakati kedua pihak suami istri, baik banyak maupun sediikit, seperti cambuk, sandal, cincin besi, atau semacamnya. (Fatwa Islam no. 3119).

Jika Tidak Memiliki Nilai, Tidak Bisa Disebut Mahar

Dari penjelasan di atas, nilai minimal benda yang bisa dijadikan mahar adalah benda yang masih bisa disebut harta, sehingga orang akan menghargainya. Karena itu, ketika ada mahar yang tidak memiliki nilai, maka belum bisa dianggap mahar, dan suami berkewajiban menggantinya dengan benda yang lebih bernilai. An-Nawawi mengatakan,

ليس للصداق حد مقدر بل كل ما جاز أن يكون ثمنا أو مثمنا أو أجرة جاز جعله صداقاً فإن انتهى في القلة إلى حد لا يتمول فسدت التسمية

Tidak ada ukuran untuk mahar, namun semua yang bisa digunakan untuk membeli atau layak dibeli, atau bisa digunakan untuk upah, semuanya boleh dijadikan mahar. Jika nilainya sangat sedikit, sampai pada batas tidak lagi disebut harta oleh masyarkat, maka tidak bisa disebut mahar. (Raudhatut Thalibin, 3/34).

Mahar dengan jumlah uang berdasarkan tanggal atau tahun pernikahan

Nilai sangat sedikit seperti yang digambarkan An-Nawawi di atas, tentu saja kembali kepada kondisi masyarakat. Bagi masyarakat generasi 70an, nilai uang 2013 misalnya sangat berharga dan uang 13 rupiah yang masih bisa dimanfaatkan. Berbeda dengan masa kita, 13 rupiah tidak lagi bisa disebut uang. Karena itu, mahar 2013 yang masih memiliki nilai adalah Rp 2000. Dan kita sepakat, uang 2000 masih dianggap harta bagi masyarakat, hanya saja, nilainya sangat murah jika digunakan untuk mahar. Kami yakin, sang suami akan malu ketika dia menyebutkan mahar untuk istrinya Rp 2000.

Umumnya mahar dengan angka tahun semacam ini, motivasinya adalah ‘kesan unik’ dan bukan nilai. Dan itu bukti bahwa pernikahan yang dilakukan karena didasari cinta dan bukan karena uang. Namun, kami hanya bisa menyarankan, selagi suami memiliki harta lainnya yang lebih bernilai, agar mahar uang 2013 tidak dijadikan mahar utama, tapi mahar tambahan. Mahar utamanya bisa berupa emas atau perhiasan lainnya.

Allahu a’lam

Sumber:

http://www.konsultasisyariah.com/

http://www.alquran-syaamil.com

Mahar atau Mas Kawin Menurut Al-Quran dan Hadits | FAATIHA | Solusi Kebutuhan Muslim

Tags:

Belum ada Komentar untuk Mahar atau Mas Kawin Menurut Al-Quran dan Hadits

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Benarkah Sungai dan Kurma, Obat Galau Yang Manjur?

Ditulis pada: 12 April 2016

Sress dan galau menghampiri kehidupan kita hampir setiap hari. Penyebabnya bermacam – macam mulai dari urusan pekerjaan, keluarga maupun asmara. Bagaimana kita bisa hidup dengan usia yang panjang sementara setiap saat stress bisa  menghantui kita ? Salah satu caranya adalah... Baca selengkapnya »

Mahar atau Mas Kawin Menurut Al-Quran dan Hadits

Ditulis pada: 28 September 2015

  Mahar merupakan sesuatu yang diberikan suami kepada isteri berupa harta atau bentuk lainnya sebagai salah satu syarat dalam pernikahan. Mahar atau disebut juga dengan mas kawin diterangkan di dalam Alquran, seperti yang dicantumkan di bawah ini: “Dan berikanlah mahar... Baca selengkapnya »

Adab-adab Mengenakan Cincin Bagi Pria dan Wanita

Ditulis pada: 26 March 2015

Adab-adab Mengenakan Cincin Mengenakan cincin dibolehkan bagi laki-laki, dan bukan termasuk perkara yang disunnahkan, akan tetapi itu termasuk perkara yang apabila kebutuhan menuntut untuk mengenakannya, maka silahkan digunakan, dan apabila tidak ada kebutuhan, maka janganlah digunakan. Ini berdasarkan dalil bahwasanya... Baca selengkapnya »

Hukum Bekerja adalah Fardhu ‘Ain

Ditulis pada: 25 March 2015

Hukum Bekerja Bekerja yang menentukan tegaknya hidup manusia, hukumnya fardhu ‘ain. Sementara usaha yang menentukan tegaknya kehidupan bersama, hukumnya adalah fardhu kifayah. Mendirikan perusahaan dan perindustrian dilihat dari kebutuhan umat secara kolektif hukumnya adalah fardhu kifayah. Bertawakal kepada Allah tidak... Baca selengkapnya »

Malu adalah Sebagian Dari Iman

Ditulis pada: 24 March 2015

 Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu,, أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِوَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِدَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيْمَانِ “Bahwasanya Rasulullah Shalllahu ‘alaihi wa Sallam melewati seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang sedang menasihati saudaranya... Baca selengkapnya »

}